Mengenal HOAX dan Buzzer HOAX

Berita Palsu atau Hoax dan buzzer hoaks

 A. Mengenal HOAKS

Hoaks (hoax) menjadi isu yang cukup banyak dibicarakan orang saat ini di dunia siber. Penyebaran hoaks melalui internet cukup masif dan cepat, bahkan dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa hoaks menyebar lebih cepat dibanding berita yang benar.



Sebenarnya apakah yang disebut hoaks?

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks didefinisikan sebagai berita bohong. Sementara Merriam-Webst mendefinisikan hoaks sebagai suatu tindakan yang membuat sesuatu yang salah atau tidak masuk akal dapat dipercaya atau diterima sebagai sesuatu yang benar.
Atau dapat disimpulkan bahwa hoaks adalah suatu berita/informasi yang tidak benar yang dibuat seolah-olah benar sehingga dapat dipercaya oleh orang lain. Kata hoaks sendiri diduga pertama kali mulai populer digunakan pada pertengahan hingga akhir abad ke-18, berasal dari frasa hocus pocus yang merupakan istilah dalam dunia sulap menyulap.

Pada tahun 2017, Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) melakukan survey terkait hoaks di Indonesia. Dari hasil survey tersebut dapat dilihat bahwa saluran penyebaran hoaks paling besar berasal dari Media Sosial serta Aplikasi Chatting, jauh lebih tinggi dibandingkan media Penyebaran lainnya seperti radio, media cetak, dan televisi. Hal ini memperlihatkan bahwa peran internet dalam penyebaran hoaks ini sangatlah besar.

Survey tersebut juga mengungkapkan bahwa intensitas penerimaan hoax dari para responden paling tinggi adalah setiap hari (44,3% dari responden). Hal ini merupakan sesuatu yang cukup mengkhawatirkan karena dapat dikatakan bahwa hoaks di Indonesia tersebar cukup masif.

JENIS-JENIS HOAKS
lnformasi yang bersifat hoaks dapat muncul dalam beragam bentuk, seperti tulisan, gambar atau video. Berdasarkan survey Mastel (2017) hoaks yang paling sering diterima masyarakat Indonesia adalah dalam bentuk tulisan.

Sementara itu, berdasarkan topiknya, ternyata hoaks seputar isu sosial politik paling banyak diterima masyarakat, juga terkait SARA dan kesehatan.

Claire Wardle dari First Draft , sebuah projek di bidang literasi media, mengelompokkan berita bohong (mis dan disinformasi) dalam 7 kategori berikut:

  1. Satire atau Parodi
  2. lnformasi yang dibuat untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seserang, biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Satir umumnya dibuat tanpa maksud untuk mengelabui orang yang melihatnya karena hanya bersifat sindiran. Namun, bagi yang tidak memahami gaya bahasa ini dapat terkecoh dan menganggap informasi yang dilihatnya sebagai Sebuah kebenaran, terutama ketika yang menyampaikannya tidak secara jelas menyatakan bahwa informasi tersebut satir.
  3. Konten yang Menyesatkan
  4. Penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu. Biasanya informasi ditampilkan dengan menghilangkan konteksnya untuk menggiring persepsi publik agar sesuai dengan keinginan pembuat informasi tersebut.
  5. Konten Tiruan
  6. lnformasi yang dibuat mirip dengan aslinya dengan tujuan untuk mengelabui publik, seperti situs web yang dipalsukan agar pengunjungnya tertipu dan menganggap situs tersebut adalah situs aslinya
  7. Konten Palsu
  8. Konten baru yang 1 00% salah, sengaja dirancang dan dibuat untuk mengelabui pemba- canya. Pembuatan konten palsu ini dapat dilatarbelakangi oleh berbagai tujuan, baik keun- tungan finansial, propaganda, maupun kepentingan politik, sehingga berpotensi menyesatkan dan bahkan membahayakan masyarakat.
  9. Koneksi yang salah
  10. Ketika judul, gambar atau keterangan tidak mendukung konten yang sebenarnya. Salah satu contohnya adalah metoda click bait, membuat judul atau gambar yang mengundang orang untuk mengklik tautan yang tersedia dengan bentuk yang provokatif, menarik dan sensasional, padahal kontennya sendiri tidak "seheboh" judulnya.
  11. Konten yang salah
  12. Ketikan konten yang asli disampaikan dalam konteks yang salah, dimana sebuah informasi (tulisan, gambar atau video) yang benar ditempatkan dalam konteks yang tidak sesuai aslinya.
  13. Konten yang dimanipulasi
  14. lnformasi yang asli dimanipulasi dengan tujuan menipu. Bisa jadi hanya sekedar iseng, tetapi bisa juga bertujuan untuk memprovokasi, menyebarkan propaganda, maupun untuk kepentingan politik.
MENJADI WARGANET CERDAS
Bagaimana agar hoaks dapat ditekan tingkat penyebarannya?

Pada prinsipnya kita harus dapat menjadi warganet yang cerdas, yang dapat berpikir kritis ketika menerima sebuah informasi dan tidak tergesa untuk menyebarkannya.

Jika kita menerima sebuah informasi, maka informasi tersebut perlu disaring terlebih dahulu. Yang pertama adalah dengan mencari tahu apakah informasi tersebut benar atau tidak, jika tidak benar maka dapat dikatakan bahwa informasi tersebut adalah hoaks.

Jika benar pun jangan langsung disebarkan, tetapi ditelaah apakah informasi tersebut memberikan manfaat jika kita sebarkan. Jika memang bermanfaat, harus pula dipikirkan apakah informasi tersebut memang perlu untuk disebarkan. Dan jika memang dirasa perlu disebarkan, pikirkan lagi apakah harus disebarkan sekarang juga atau tidak ada kepentingan yang mendesak. (Dikutip dari Siber Kreasi Kominfo RI).

 B. BUZZER HOAKS

Buzzer adalah sekelompok orang atau kelompok orang yang dibayar untuk menyebarkan berita, propaganda, hingga fitnah dan hoax di media sosial untuk kepentingan politik pemodalnya.

Buzzer berasal dari bahasa Inggris yang mempunyai arti lonceng, bel atau alarm. Pengertian Buzzer secara harfiah dapat diartikan sebagai alat yang dimanfaatkan dalam memberikan pengumuman atau mengumumkan sesuatu untuk mengumpulkan orang-orang pada suatu tempat.

Tahukah anda berapa bayaran yang didapatkan oleh seorang Buzzer politik?

Dikutip dari laman tribunnews.com, berikut cerita seorang buzzer!

Tahukah anda sebagian Buzzer dibayar mencapai ratusan juta rupiah?

“Dapat uang masing-masing Rp 100 juta minimal untuk bos-bosnya. Bisa lebih. Mereka proyekan sampai pilpres selesai.” ungkap Andi seorang buzzer profesional yang mendapatkan order pada pilpres 2019 saat ditemui Tribun Network di kawasan Bekasi, Jawa Barat, pertengahan Februari 2019. Para buzzer akan mengelola akun media sosial, lalu membuat konten serta menyebar melalui akun-akun tersebut.

Kata kunci dan hal terpenting bagi buzzer adalah menjalankan tugas sesuai order lalu melaporkan kepada pemesan. “Hoaks atau tidak, mereka tidak peduli, yang penting sudah kerja,” ungkap Andi.

“Hoaks atau tidak, mereka tidak peduli, yang penting sudah kerja”

Lebih lanjut menurut Kiyai Ma’ruf Amin (Tribunnews.com) “Menurut agama, kebohongan itu mengarah pada tindakan yang menyimpang, dan perilaku menyimpang itu membawa orang ke neraka.”

Jadi berdasarkan penjelasan diatas, maka Hoaks atau hoax merupakan berita bohong yang membawa kepada perilaku menyimpang dan para pelaku atau buzzer-buzer hoaks tersebut dibayar dengan nilai fantastis untuk melakukan kegiatan hoaks tersebut, mereka (para buzzer hoax) tidak peduli berita atau kontent yang mereka buat dan sebarkan tersebut benar atau tidak, yang penting mereka sudah bekerja dan mendapatkan bayaran dari pekerjaan tersebut.

Jadi, sekarang tergantung kepada kita apakah kita akan terus merelakan diri menjadi korban dari para buzzer hoaks atau tidak?

Tugas kita sebagai anak bangsa adalah melawan berita hoaks tersebut dan menjadi generasi literat yang dapat mengolah informasi yang kita terima melalui proses “tabayyun” atau cek and ricek sebelum kita memutuskan untuk menyebarkan atau membagi sebuah informasi yang kita terima. Dan yang paling terpenting sebelum kita membagikan informasi ke publik harus dipahami dulu apakah informasi yang akan kita sebarkan tersebut mengandung manfaat atau tidak kepada masyarakat. Jadi bukan hanya sekedar mengecek kebenaran dari sebuah informasi namun apakah manfaat dari informasi tersebut, itu lebih penting. Jika tidak memiliki manfaat sama sekali lebih baik diabaikan saja. Sekali lagi marilah menjadi warganet yang bijak dalam bermedia sosial. Permusuhan antarsesama anak bangsa marilah kita buang sejauh mungkin karena bangsa yang besar adalah bangsa yang senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa yang sudah dibayar dengan tumpahan darah para pejuang bangsa ini.

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”

Semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan dijauhkan dari perpecahan antarsesama anak bangsa hanya karena perbedaan pilihan. Wallahu a’lam.

Baca juga:
Prosedur Menyusun Soal HOTS
Pembelajaran HOTS Terintegrasi STEM
Literasi Media (Menuju Masyarakat Milenial)
Pemanfaatan Jejaring Sosial Sebagai Sumber Belajar
Media Sosial dan Kegiatan Berbagi (Share) Informasi
Labels: Gallery

Thanks for reading Mengenal HOAX dan Buzzer HOAX. Please share...!

0 Comment for "Mengenal HOAX dan Buzzer HOAX"

Dilarang berkomentar hal-hal yang bersifat sara dan pornografi

Back To Top